Impian di Balik Bukit Kapur
Matahari baru saja naik sepenggalah, namun bau tanah basah dan asap kayu bakar sudah memenuhi udara di Dusun Kedungrejo. Di teras rumah panggung sederhana, duduklah seorang anak laki-laki bernama Hadi. Usianya sebelas tahun. Di tangannya, bukan gundu atau layangan, melainkan sebuah buku saku lusuh berisi catatan khotbah dari masjid. Hadi adalah anak desa sejati. Sepulang sekolah, ia membantu Bapaknya memanen singkong atau menggiring kambing ke padang rumput di kaki Bukit Kapur. Hidupnya akrab dengan keringat, lumpur, dan debu jalanan yang berubah jadi becek saat hujan. Namun, di balik semua kesederhanaan itu, Hadi menyimpan satu cita-cita yang kuat, sesuatu yang sering ia lihat sebagai cahaya terang di ujung jalan setapak desanya: mondok . Ia sering mendengar cerita dari Pak Lek Rahmat, satu-satunya pemuda di desa yang pernah merantau ke kota dan mondok di pesantren besar. Pak Lek Rahmat bercerita tentang malam-malam yang diisi dengan suara lantunan ayat suci, tentang teman-teman...