Impian di Balik Bukit Kapur
Matahari baru saja naik sepenggalah, namun bau tanah basah dan asap kayu bakar sudah memenuhi udara di Dusun Kedungrejo. Di teras rumah panggung sederhana, duduklah seorang anak laki-laki bernama Hadi. Usianya sebelas tahun. Di tangannya, bukan gundu atau layangan, melainkan sebuah buku saku lusuh berisi catatan khotbah dari masjid.
Hadi adalah anak desa sejati. Sepulang sekolah, ia membantu Bapaknya memanen singkong atau menggiring kambing ke padang rumput di kaki Bukit Kapur. Hidupnya akrab dengan keringat, lumpur, dan debu jalanan yang berubah jadi becek saat hujan.
Namun, di balik semua kesederhanaan itu, Hadi menyimpan satu cita-cita yang kuat, sesuatu yang sering ia lihat sebagai cahaya terang di ujung jalan setapak desanya: mondok.
Ia sering mendengar cerita dari Pak Lek Rahmat, satu-satunya pemuda di desa yang pernah merantau ke kota dan mondok di pesantren besar. Pak Lek Rahmat bercerita tentang malam-malam yang diisi dengan suara lantunan ayat suci, tentang teman-teman dari berbagai daerah, dan tentang guru-guru yang ilmunya seluas lautan.
"Di sana, Di, kamu tidak hanya belajar agama. Kamu belajar hidup disiplin, belajar mandiri, dan paling penting, kamu belajar menjadi pribadi yang bermanfaat," kata Pak Lek Rahmat suatu senja, saat mereka berdua duduk memandangi matahari terbenam.
Sejak saat itu, hati Hadi bulat. Ia ingin merasakan kedisiplinan barak, kehangatan ukhuwah, dan kesejukan ilmu di pesantren.
Malam itu, Hadi memberanikan diri. Setelah Ibu selesai membereskan piring dan Bapak sedang menyeruput kopi di amben, Hadi mendekat.
"Bapak, Ibu," panggil Hadi pelan.
"Iya, Nak. Ada apa?" jawab Ibu sambil mengelus rambut Hadi.
"Hadi... Hadi ingin mondok."
Seketika keheningan menyelimuti ruangan. Bapak meletakkan cangkir kopinya perlahan. Wajahnya yang biasa keras karena terpaan matahari tampak melembut, bercampur keraguan.
"Mondok, Nak? Jauh lho, itu di kota sebelah. Biayanya tidak sedikit, Di. Bapak sama Ibu hanya punya sawah sekotak ini," ujar Bapak, suaranya terdengar berat.
Hadi tahu betul keadaan ekonomi keluarganya. Jangankan uang pendaftaran, untuk membeli seragam sekolah barunya saja Ibu harus menjual beberapa ekor ayam.
"Hadi janji, Pak, Bu. Hadi akan belajar dengan rajin. Hadi akan mandiri. Hadi akan ikut semua beasiswa yang ada. Hadi sudah tanya Pak Lek Rahmat, katanya pesantren itu sering memberikan bantuan untuk santri dari keluarga kurang mampu asalkan nilainya bagus," kata Hadi, matanya memancarkan kesungguhan.
Ibu menatap Bapak. Ada air mata keraguan dan kebanggaan di mata Ibu. Ia tahu cita-cita itu adalah bekal terbaik yang bisa dimiliki anaknya.
Bapak menghela napas panjang. Ia ingat bagaimana tekunnya Hadi belajar mengaji di surau kecil desa mereka, bahkan saat teman-temannya sibuk bermain. Ia melihat cahaya harapan di mata anak semata wayangnya.
"Baiklah, Nak," kata Bapak akhirnya, suaranya tegas namun penuh kasih. "Bapak akan usahakan. Bapak akan jual sebagian hasil panen singkong kita lebih awal. Besok, kita temui Pak Kyai di desa sebelah untuk meminta surat rekomendasi."
Mendengar itu, hati Hadi melonjak kegirangan. Rasanya lebih bahagia daripada mendapatkan layangan aduan yang paling bagus.
Beberapa minggu kemudian, dengan bekal satu tas ransel berisi dua stel baju koko lusuh, beberapa buku tulis, dan uang saku yang pas-pasan hasil penjualan singkong dan sedikit perhiasan milik Ibu, Hadi siap berangkat.
Di depan rumah, Bapak dan Ibu berdiri tegar.
"Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan lupa sholat dan jaga nama baik keluarga. Ingat, kamu jauh-jauh dari desa ini untuk mencari ilmu," pesan Bapak, suaranya sedikit bergetar.
"Iya, Bu, Pak. Hadi janji akan pulang membawa ilmu yang bermanfaat," jawab Hadi sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Saat ia membalikkan badan, pandangannya tertuju pada Bukit Kapur yang menjulang di kejauhan. Bukit itu selalu menjadi batas dunia Hadi selama ini. Namun, kini, ia tahu, bahwa di balik batas itu, terbentang dunia baru, dunia ilmu yang siap ia jelajahi.
Hadi melangkah, membawa mimpi di pundaknya, meninggalkan bau tanah dan asap kayu bakar, menuju gerbang pesantren yang ia yakini akan mengubah masa depannya dan masa depan desa kecilnya. Impian anak desa itu, kini, mulai menemukan jalannya.
— Tamat —

Komentar
Posting Komentar